Al-Qur’an dan Hidayah

Screenshot_20180519-021933
doc.islamicThinking

Ramadhan adalah salah satu bulan yang mulia dalam agama Islam. Dalam bulan yang kerap diistilahkan sebagai bulan al-quran ini sudah sepatutnya menjadi ajang kita dalam membaca dan mengamalkan kandungan dari kalam Allah yang mulia itu. Al-quran sendiri adalah mukjizat Allah yang masih tetap ada dan bisa kita nikmati sampai saat ini dan sampai hari kiamat kelak. Ia adalah satu bentuk mukjizat yang paling istimewa dibandingkan dengan mukjizat-mukjizat yang lain. Bagaimana tidak, jika mukjizat lain seperti tongkat Nabi Musa, unta Nabi Luth atau bahkan Mukjizat Nabi Isa yang dapat menghidupkan orang mati, hanya bisa disaksikan oleh orang-orang yang hidup dimasanya, al-quran masih tetap bisa dinikmati dan terjaga keorisinilannya bahkan setelah beratus-ratus tahun

Betapa banyak kemudian manusia yang mendapatkan hidayah lewat al-quran. Sebut saja Sayyidina Umar ibn Khattab yang kita ketahui sejarahnya bahwa beliau terketuk hatinya untuk memeluk agama islam saat mendengar lantunan ayat al-quran di rumah saudara perempuannya. Tak hanya itu, tidak sedikit ilmuan-ilmuan modern yang kemudian meyakini Islam sebagai agama yang haq (benar) lantaran apa yang terkandung dalam al-quran memang sesuai dengan fakta lapangan. Seperti halnya ayat Qur’an yang menyebutkan adanya pertemuan antara 2 laut yakni berupa air asin (laut) dan air tawar (sungai) yang diantara keduanya ada sekat pembeda sehingga keduanya tidak akan tercampur. Penelitian yang dilakukan oleh Seorang Oceanografer atau peneliti kelautan yang sekaligus ahli selam terkenal dari Perancis yang bernama Jacques Yves Costeau ini telah membawanya menjadi seorang muslim.

Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (QS. Al-Furqaan: 53)

Selain itu, Dr. Maurice Bucaille merupakan seorang ahli bedah ternama di Perancis dan menjadi kepala klinik bedah di salah satu universitas kedokteran di Paris. Beliau melakukan penelitian pada jasad mumi Fir’aun yang ternyata masih tetap utuh dan lebih terjaga daripada jasad bala tentaranya. Hal ini memang sudah disebutkan dalam al-quran bahwa Allah tidak menghancurkan jasad Fir’aun agar ia bisa menjadi pelajaran bagi umat setelahnya.

Salah seorang Gus (kyai) pernah bercerita tentang seseoraang yang bertanya pada Syeikh-nya; “Kenapa al-Quran itu tidak terurut secara sistematis seperti halnya buku-buku ilmiah?”

Syeikh tersebut hanya tersenyum dan berkata: “Jika Al-Quran disusun dengan sistematika seperti itu, yakni tidak akan seseorang mendapatkan hidayah kecuali ia telah rampung dalam membacanya”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s